“ DEMONSTRASI ” PILIHAN KEDUA SETELAH DIPLOMATIK

Sabtu, 13 November 2010 , Posted by DEPKOINFO BEM FISIP UNTIRTA at 09.06



Demonstasi merupakan kata yang tak asing lagi bagi pendengaran kita sehari-hari, di TV, di Surat Kabar bahkan dimata kepala kita sendiri yang acapkali hadir seminggu dua kali, dimana mahasiswa yang sudah di cap sebagai pencipta demonstrasi yang selanjutnya merupakan salah satu budaya dalam mengekpresikan kehendak atas sesuatu yang disetujui maupun sesuatu yang ditentang yang diekspresikan dengan turun kejalan sambil berorasi dan berspanduk serta tidak sedikit yang memakai cara bakar-bakar benda yang menggangu kepentingan umum. Sehingga masyarakat awan pun meniru, mulai dari tukang becak sampai pengemis pun meniru cara ini sebagai jalan mengekpresikan jiwa mereka kepada penguasa.  

Dibalik itu semua, budaya demonstrasi merupakan budaya orang yang tak memiliki pilihan berpikir yang logis atas usaha-usaha yang memiliki nilai hasil yang tinggi tanpa sipat dan perilaku purba kita terlihat, artinya demonstrasi merupakan salah satu pilihan yang sulit diambil apabila cara-cara yang mencerminkan pendidikan tinggi tidak dapat lagi digunakan, salah satunya diplomatik, jadi demo dapat diambil apabila cara-cara penyampaian aspirasi secara tatap muka dengan mennggunakan argumen yang sesuai dengan kepentingan dan aspirasi yang memuat apakah itu penolakan maupun persetujuan yang ditujukan langsung kepada orang atau badan atau Pemerintah. Cara ini dinilai lebih berpendidikan sebagai salah satu jalan yang wajib dibudayakan bagi mahasiswa  dalam menyampaikan aspirasi. sehingga dapat memberikan kesan bahwa mahasiswa sebagai penganut budaya akademik memiliki perilaku dalam kebebasan menyampaikan aspirasi tidak salah jalan dan memiliki dedikasi tinggi. Tapi kenyataannya hal–hal kecil pun yang tak seharusnya disampaikan secara demonstrasi dalam situasi panas dan mengganggu lalulintas umum serta mengurangi dan mengorbankan perkuliahan, acap kali mereka tidak hiraukan, jadi, mana budaya akademik yang mahsiswa tonjolkan pada masyarakat.

Demonstrasi boleh saja dilakukan, apabila cara-cara secara intelek/diplomatik tidak lagi mampuh dalam menyampaikan aspirasi. Jadi sangat disayangkan, bila mahasiswa sebagai tulung punggung bangsa ini dalam menentukan nasib dan mau kemana bangsa ini dibawa pada masa globalisasi ini, jika saja jiwa kasar sudah tertanam dalam benak mahasiswa saat ini, selain tidak berpendidikan dan juga mengganggu ketertiban umum.  

Mahasiswa Administrasi Negara
Fisip Untirta

.
Latest News